Kamis, 09 Desember 2010

DUA DUNIA YANG TERLUPA

Terkadang aku sering takut menjadi orang besar. Aku takut kacamataku ini bukan lagi kacamata hati, yang terus peduli dengan teman-teman kecilku yang membutuhkan. Melainkan kacamata yan haus akan hormat, dan menutup mata akan dunia yang terlupa.

Suatu malam, aku bertemu dengan dua anak yang begitu istimewa untukku. Sebenarnya, aku sudah sering berteman dengan anak jalanan. Aku bersyukur, sejak kecil aku sudah banyak kelilingi anak-anak dengan latar belakang yang beragam. Hal ini yang membuatku belajar untuk tidak membeda-bedakan orang.

Malam itu, aku sedang makan di sebuah warung. Tiba-tiba ada dua anak perempuan yang menghampiri kami, dan kemudian mereka bernyanyi. Yah, senandung mereka memang tak seindah penyanyi kenamaan. Namun, begitu miris ketika kita mendengr senandung kecil mereka.

Melihat semangat mereka, aku memutuskan untuk mengobrol dengan dua anak ini. Tak ku sangka mereka masih SD. Anak yang pertama masih kelas lima SD, dan yang satunya lagi duduk di kelas empat SD.

Mereka bercerita, kalau mereka mengamen karna terdesak oleh keadaan. Ibu salah satu diantaranya hanyalah seorang buruh rumah tangga, dan ayahnya pengangguran. Sedang mereka memiliki adik yang harus dibiayai. Mereka mulai mengamen sejak siang sepulang sekolah, hingga sekitar jam sepuluh sampai jam sebelas malam. Jam di mana, anak lain sedang lelap beristirahat, mereka justru masih harus berkutat dengan malam demi secercah rupiah. Sayang, aku lupa menanyakan nama mereka. Pada saat makan bersama kami, mereka telihat begitu lahapnya. Padahal makanan itu hanya makanan sederhana. Hatiku miris melihat kenyataan ini. Ketika dunia tertawa karna kebahagiaan yang fana, mereka justru dihujam kerasnya kehidupan.

Aku kagum dengan mereka. Mereka punya semangat yang tinggi. Dan mereka juga terus bersekolah, meski didera limbubu kesulitan ekonomi. Mereka percaya, dengan bersekolah, kehidupan mereka akan lebih baik. Sungguh, merekalah sebenarnya dua dunia yang terlupa. Dunia yang sering tak terlihat oleh kacamata logika yang haus akan hormat, dengan ambisi yang tak hais-habisnya.

Andailah, bisa memilih, tentu mereka juga tak ingin seperti ini. Walaupun, memang ada beberapa anak jalanan yang terkadang membuat jengkel dengan sikap mereka, namun tak semua yang seperti itu. Kalau ada bimbingan terhadap mereka, aku yakin mereka akn lebih baik. Mereka juga butuh perhatian, seperti layaknya kita.

Saatnya kita membuka mata, sesungguhnya diantara dunia yang begitu pekat dengan logika, dan seringkali melupakan rasa, ada tangan-tangan kecil yang membutuhkan kita. Rasanya sudah cukup seribu janji tanpa realisasi, kini waktunya satu tekad dengan usaha nyata untuk perbaikan anak negri.



Semoga dengan cerita ini, mata kita akan lebih terbuka. Bahwa ada yang sering kali terupa oleh kita. Amin

Tolong share ini ke semua pihak. Dan sadurkan sumber ini.
Kisah ini nyata dari banjarmasin, Kalimantan selatan. Pada akhir juli 2010.
SALAM SEMANGAT ANAK INDONESIA

Kamis, 24 Juni 2010

Ciptaan Terindah Tuhan

Thanks GOD... udah mengenalkan ku dengan seorang yang Engkau ciptakan begitu sempurna dibalik kekurangannya. Aku banyak belajar hidup darinya

Minggu, 20 Juni 2010

Bikin Kesel

Huh bikin kesel aja deh... Ini orang usil banget jadi manusia... Ngeledek mulu kerjaannya...

Jumat, 18 Juni 2010

Cerita Di Balik Bintang

Suatu malam aku diajak papa ke sebuah lapangan yang luas banget... (Ya nlah namanya juga lapangan mana ada yang sempit ya? hehehe)... Kala itu usia ku baru menginjak empat tahun... Pas lagi asyik baca buku yang baru dibeliin papa... Nah tiba-tiba papa minta aku berenti baca, tapi aku gak mau... Maklum aku klo udah asyik baca sesuatu bisa gak mo berenti... Trus papa bilang, "coba kamu liat bintang itu dan cari yang paling terang."
Behubung aku blom ngerti jadi dengan polosnya aku bilang gini,"ngapain sih pa liat-liat bintang? emang dia bisa apa?"
Papa bilang," sayang... klo kamu lagi sedih kamu cari aja bintang yang paling terang. Trus kamu cerita ke bintang itu, dan minta dia sampein ke Tuhan."
Aku bilang lagi, "trus klo bintangnya gak ada gimana pa?"
Kata papa,"berarti bintangnya lagi istirahat, dan bintangnya pengen kamu nyampein sendiri ke Tuhan."
Aku nanya lagi, "gimana caranya pa?"
Papa," kamu ambil wudhu trus shalat... abis itu minta deh ke Tuhan."


Duh... jadi kangen ma papa....
Papa... cepet pulang dong...

Selasa, 15 Juni 2010

Kala Jiwa Bertanya

Apa yang akan anda lakukan ketika apa yang anda miliki selama ini diambil oleh orang lain? Sedangkan anda tidak dapat protes atas apa yang terjadi?

Senin, 07 Juni 2010

Raffi Lagi...

Pagi tadi saya mendapat kabar lagi tentang perkembangan Raffi. Ternyata kemaren Raffi sudah agak mendingan, jadi diputuskanlah Raffi untuk di bawa pulang. Apalagi sudah hampir 3 hari Raffi tak bertemu dengan abangnya Raffa. Tapi ternyata tadi malam keadaan Raffi sedikit memburuk. Sehingga subuh tadi diputuskan untuk membawa Raffi ke rumah sakit. Tapi kali ini dia di rawat di Ruma Sakit Hasan Basry Kandangan.

I hope you will be soon ya....
Apphi... Apphi... Apphi...

Sabtu, 05 Juni 2010

Kabar Dari Raffi

Sore kemaren tadi saya mendapat kabar yang kurang mengenakkan. Raffi... sepupu saya yang biasanya "tahan banting" kini sedang sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit...
Sejak kemaren malam pikiran saya tak tenang... Hari ini saya berniat menjenguk Raffi... Namun, ternyata lelah setelah seminggu penuh membuat saya tertidur.... Jam telah menunjukkan pukul 4 petang... Kalau saya nekat ke luar kota tempat Raffi tinggal pasti malam baru sampai... Akhirnya, saya putuskan untuk besok menjenguknya...

Raffi... semoga kau cepat sembuh yaaaaa
Kami sudah teramat rindu dengan celotehan mu
Salam sayang dari kakak mu